Kamis, 21 April 2016

Politik Dan Teori Komunikasi


            Lasswel’s Model, sebagai anak Ilmu Komunikasi sudah sepantasnya kita mengenal seorang tokoh politik yang tiba-tiba memberikan sebuah teori tentang komunikasi dan menjadi bapak komunikasi. “Who says what in which channel to whom with what effect” Siapa yang mengatakan apa melalui apa kepada siapa dan mempunyai pegaruh apa. Pengertian yang sangat mudah dicerna dan sangat berpengaruh kepada setiap mahasiswa Ilmu Komunikasi.
            Pada tulisan ini penulis akan mencoba melihat model ini dari perspektif asal seorang Harold D. Laswell yaitu ilmu politik. Langsung kepada teori Laswell, sebagai permulaan dalam teorinya iya menuliskan kata “Who” tepat diawal kalimat yang berarti “siapa” . Siapa pelakunya, siapa pelaku politik yaitu aktor aktor politik itu sendiri yang sedari awal  mencelupkan dirinya di ranah lingkup politik. Maka layaknya seorang aktor ia diharapkan bisa memerankan jabatannya nanti dengan baik dan benar, tidak banyak improvisasi yang malah membuat banyak kasus korupsi.
            Selanjutnya “What” yang berarti “Apa/Pesan” disini dimaksudkan adalah pesan politiknya. Setelah aktor politik terjun di sebuah dunia politik akankah ia berarti jika tidak pernah menyampaikan pesan-pesan politiknya demi kemajuan dan kepentingan partainya hingga kepentingan pribadinya. Realita dimana pesan politik dijadikan sebagai alat tipu daya  kepada masyarakat demi harta, tahta, dan Wanita. Keji.
            “Channel” atau media dalam dunia politik ialah sebuah rumah berlindung dan bersandingnya para aktor salah satunya ialah partai politik. Kemudian dilanjutkan dengan pengendalian-pengendalian terhadap media massa atau cetak dari partai politiknya bahkan di negara Indonesia sendiri partai politik banyak menjadi penopang hidup sebuah media yang berdiri tepat dibelakang media. Entah karena sudah tidak adanya orang-orang yang peduli dengan kemurnian media sebagai sarana penyebar informasi atau memang karena sudah jamannya.
            Lalu “whom” yang berarti siapa dan merupakan sebuah objek dalam komunikasi. Dalam penerapannya ilmu politik menempatkan masyarakat sebagai objek dari pesan-pesan aktor yang bersandang dari rumah politiknya. Menghasut,  membodohi merupakan beberapa kejadian yang sudah jelas-jelas terjadi dimasyarakat karena keserakahan ego para aktor politik demi kemajuan dan kesejahteraan pribadi.
            Dan yang terakhir adalah “ Effect” yang berarti pengaruh atau dampak yang sudah jelas menjadi sebuah tujuan dan keinginan dari kehidupan berpolitik. Sejauh mana pengaruh  dari sebuah partai tergantung dari cara delivery para aktornya yang sudah ditugaskan dan  diamanahkan oleh ego partai. Menanamkan ideologi dengan cara-cara aneh seperti memutarkan lagu kebangsaan sebuah partai di dalam satu channel milik pribadi demi keuntungan pribadinya lagi. Ironi.

           


Rabu, 06 April 2016

Problema Selain Sistem

Indonesia, negara hujan tropis yang sangat terkenal dan merupakan paru-paru dunia adalah salah satu negara berkembang yang menerapkan sistem pemerintahan Presidensial, yang dipimpin oleh presiden dan wakil presiden melalui pilihan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Kemajuan teknologi di dunia juga menyebabkan lahirnya generasi Indonesia melek gadget berlebihan. Dengan keadaan seperti ini, apakah Indonesia kedepannya akan mendapat sebuah perubahan yang baik ataukah buruk, karena pesatnya perkembangan teknologi yang sangat susah dibendung dewasa ini.

E, iya, lupa. Bagaimana kabarnya dengan dengan sistem pemerintahan Indonesia? Sepertinya sudah berada di ujung tanduk. Itulah, didukung dengan kasus korupsi dari barat ke timur dari pegawai esek-esek sampai anggota dewan yang dermawan.

Lantas apa yang harus dilakukan dengan sistem pemeirntahan Indonesia sekarang ini. Apakah kita harus kembali di zaman orde baru, dimana kita melakukan demo besar besaran untuk menurunkan jabatan seorang Soeharto demi mewujudkan revolusi menuju masa reformasi. Apakah hasil dari kejadian tersebut akan membuat Indonesia menjadi lebih baik jika keadaan sekarang ini seperti ini. Kalianlah yang menilainya.

Sekedar untuk mengingatkan, sejarah Indonesia pernah menerapkan sistem pemerintahan Quasy Parlementer yaitu “bentuk pemerintahan parlementer namun tidak menerapkan seluruhnya”. Bentuk pemerintahan ini diterapkan pada tahun 1949-1950 dan saat Indonesia masih merupakan negara serikat dengan konstitusi RIS. Lalu di lanjutkan dengan sistem Parlementer sekitar 9 tahun dan  akhirnya kembali menjadi sistem pemerintahan Presidensial lagi.
Hal ini sudah menunjukkan bahwa sistem Parlementer pun atau hanya sekedar Quasy Parlementer tidak akan berpengaruh besar jika orang-orangnya tidak ingin melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Maka apapun sistemnya jika komponen-komponen pemerintahan sampai masyarakatnya tidak turun langsung untuk memuwujudkan Indonesia yang lebih baik, hasilnya tidak akan mengubah apa-apa.

Muhammad Rizki
B 501 15 138