MUHAMMAD RIZKI
B501 15 138
Pada kesempatan ini saya berjumpa dengan salah sorang Freelancer yang sekaligus owner dari Butawarna Graphic House yang bernama Taufiqurahman.
1. Sebagai seorang desainer grafis Jenis teknologi apa saja yang anda sering gunakan? Atau bahkan yang nanti kedepan nya anda butuhkan?
Jawaban : Komputer atau Laptop dengan spesifikasi memadai, dan software grafis.
2. Bagaimana fungsi teknologi dalam keseharian pekerjaan anda?
Jawaban : Teknologi adalah kebutuhan 'primer' dalam hal pekerjaan saya, karena pekerjaan desain grafis saat ini, walaupun pada prosesnya bisa saja tidak menggunakan komputer, yaitu dengan teknik manual dan freehand, namun tetap saja metode akhir yang digunakan adalah digital.
3. Seberapa penting teknologi dalam pekerjaan anda?
Jawaban : penting sekali.
4. Apa manfaat yang bisa anda dapatkan dengan teknologi saat ini?
Jawaban : memudahkan dan memberikan hasil yang maksimal untuk pekerjaan yang saya lakukan.
Jadi, pada akhirnya hampir semua pekerjaan dizaman sepertii ini sangat membutuhkan teknologi komunikasi dalam penerapanya.
B.L.O.G
Rabu, 26 Oktober 2016
Kamis, 16 Juni 2016
KENAPA STEKER/COLOKAN MATANYA 2/3?
Seperti yang
kita ketahui atau yang pernah lihat colokan/steker hanya mempunyai dua atau
tiga mata saja. Bukan satu atau empat sekalipun. Apakah kita pernah
berpikir mengapa hal itu bisa terjadi? Mari kita pecahkan!
Singkatnya
Pada colokan atau steker terdiri dari konduktor dan deduktor, dimana
konduktornya adalah kawat atau tembaga dan deduktornya adalah plastik.
Colokan/steker dua dan tiga mata mempunyai unsur yang sama yaitu bagian
netral(-), line(+), dan E (earth). Hal ini menunjukan bahwa dua atau tiga mata
sama saja yang membedakan pada dua mata
bagian earthnya di buat lebih minimalis dan
melekat kecil tepat di antara mata colokannya.
Sangat rumit
bila dijelaskan, karena pada hakikatnya kita mesti mengetahui apa-apa saja soal
ke-listrikan sebelum kita mencari tahu lebih jelas soal ini. Akan tetapi sebagai
mahluk yang pernah membuat instalasi sendiri akan mengetahui soal kabel listrik
yang mempunyai unsur positif dan negatif, dan jika kedua kabel itu menyatu maka
akan terjadi konsleting. Tak jarang juga kita lebih memberikan kesempatan
orang lain untuk menginstalasi soal ini karena masih tabu dan takut soal
konsleting.
Lalu apakah
dengan penjelasan singkat ini kita akan paham betul? Saya rasa kita masih dan
harus mempelajari segala sesuatu yang dekat dengan kita bahkan colokan atau
steker sekalipun. Agar kedepannya kita tidak hanya tahu menggunakannya tapi
kita akan tau apa kegunaannya sebenarnya. Terima kasih.
Muhammad
Rizki
B 501 15
138
Kamis, 21 April 2016
Politik Dan Teori Komunikasi
Lasswel’s Model, sebagai anak Ilmu
Komunikasi sudah sepantasnya kita mengenal seorang tokoh politik yang tiba-tiba
memberikan sebuah teori tentang komunikasi dan menjadi bapak komunikasi. “Who
says what in which channel to whom with what effect” Siapa yang
mengatakan apa melalui apa kepada siapa dan mempunyai pegaruh apa. Pengertian
yang sangat mudah dicerna dan sangat berpengaruh kepada setiap mahasiswa Ilmu Komunikasi.
Pada tulisan ini penulis akan
mencoba melihat model ini dari perspektif asal seorang Harold D. Laswell yaitu
ilmu politik. Langsung kepada teori Laswell, sebagai permulaan dalam teorinya
iya menuliskan kata “Who” tepat diawal kalimat yang berarti “siapa”
. Siapa pelakunya, siapa pelaku politik yaitu aktor aktor politik itu sendiri
yang sedari awal mencelupkan dirinya di
ranah lingkup politik. Maka layaknya seorang aktor ia diharapkan bisa
memerankan jabatannya nanti dengan baik dan benar, tidak banyak improvisasi
yang malah membuat banyak kasus korupsi.
Selanjutnya “What”
yang berarti “Apa/Pesan” disini dimaksudkan adalah pesan politiknya. Setelah aktor
politik terjun di sebuah dunia politik akankah ia berarti jika tidak pernah
menyampaikan pesan-pesan politiknya demi kemajuan dan kepentingan partainya
hingga kepentingan pribadinya. Realita dimana pesan politik dijadikan sebagai
alat tipu daya kepada masyarakat demi
harta, tahta, dan Wanita. Keji.
“Channel” atau media
dalam dunia politik ialah sebuah rumah berlindung dan bersandingnya para aktor salah
satunya ialah partai politik. Kemudian dilanjutkan dengan pengendalian-pengendalian
terhadap media massa atau cetak dari partai politiknya bahkan di negara
Indonesia sendiri partai politik banyak menjadi penopang hidup sebuah media
yang berdiri tepat dibelakang media. Entah karena sudah tidak adanya
orang-orang yang peduli dengan kemurnian media sebagai sarana penyebar
informasi atau memang karena sudah jamannya.
Lalu “whom” yang
berarti siapa dan merupakan sebuah objek dalam komunikasi. Dalam penerapannya
ilmu politik menempatkan masyarakat sebagai objek dari pesan-pesan aktor yang
bersandang dari rumah politiknya. Menghasut, membodohi merupakan beberapa kejadian yang
sudah jelas-jelas terjadi dimasyarakat karena keserakahan ego para aktor politik
demi kemajuan dan kesejahteraan pribadi.
Dan yang terakhir adalah “ Effect”
yang berarti pengaruh atau dampak yang sudah jelas menjadi sebuah tujuan dan
keinginan dari kehidupan berpolitik. Sejauh mana pengaruh dari sebuah partai tergantung dari cara
delivery para aktornya yang sudah ditugaskan dan diamanahkan oleh ego partai. Menanamkan
ideologi dengan cara-cara aneh seperti memutarkan lagu kebangsaan sebuah partai
di dalam satu channel milik pribadi demi keuntungan pribadinya lagi. Ironi.
Rabu, 06 April 2016
Problema Selain Sistem
Indonesia, negara
hujan tropis yang sangat terkenal dan merupakan paru-paru dunia adalah salah
satu negara berkembang yang menerapkan sistem pemerintahan Presidensial, yang
dipimpin oleh presiden dan wakil presiden melalui pilihan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat.
Kemajuan teknologi di
dunia juga menyebabkan lahirnya generasi Indonesia melek gadget berlebihan.
Dengan keadaan seperti ini, apakah Indonesia kedepannya akan mendapat sebuah
perubahan yang baik ataukah buruk, karena pesatnya perkembangan teknologi yang
sangat susah dibendung dewasa ini.
E, iya, lupa.
Bagaimana kabarnya dengan dengan sistem pemerintahan Indonesia? Sepertinya
sudah berada di ujung tanduk. Itulah, didukung dengan kasus korupsi dari barat
ke timur dari pegawai esek-esek sampai anggota dewan yang dermawan.
Lantas apa yang harus
dilakukan dengan sistem pemeirntahan Indonesia sekarang ini. Apakah kita harus
kembali di zaman orde baru, dimana kita melakukan demo besar besaran untuk
menurunkan jabatan seorang Soeharto demi mewujudkan revolusi menuju masa
reformasi. Apakah hasil dari kejadian tersebut akan membuat Indonesia menjadi
lebih baik jika keadaan sekarang ini seperti ini. Kalianlah yang menilainya.
Sekedar untuk mengingatkan, sejarah
Indonesia pernah menerapkan sistem pemerintahan Quasy Parlementer yaitu “bentuk pemerintahan
parlementer namun tidak menerapkan seluruhnya”. Bentuk pemerintahan ini
diterapkan pada tahun 1949-1950 dan saat Indonesia masih merupakan negara
serikat dengan konstitusi RIS. Lalu di lanjutkan dengan sistem Parlementer
sekitar 9 tahun dan akhirnya kembali menjadi sistem pemerintahan
Presidensial lagi.
Hal ini sudah menunjukkan bahwa sistem
Parlementer pun atau hanya sekedar Quasy Parlementer tidak akan berpengaruh
besar jika orang-orangnya tidak ingin melakukan perubahan kearah yang lebih
baik. Maka apapun sistemnya jika komponen-komponen pemerintahan sampai
masyarakatnya tidak turun langsung untuk memuwujudkan Indonesia yang lebih
baik, hasilnya tidak akan mengubah apa-apa.
Muhammad Rizki
B 501 15 138
Rabu, 11 Februari 2015
PKN " PERS "
Buat temen" yang butuh ini :v
1.Pers sebagai sarana aspirasi masyarakat serta berfungsi sebagai
kontrol atas ketiga pilar(legislati,yudikatif,eksekutif)
dan melandasi kinerjanya dengan check and balance.
2.Karena Pers mempunyai 3 kewajiban yang harus diperhatikan :
1. Menjunjung tinggi kebenaran
2. Wajib menghormati privacy orang atau subyek tertentu
3. Wajib menjunjung tinggi prinsip bahwa apa yang
diwartakan atau diberitakan dapat dipertanggungjawabkan
serta tetap bebas dan bertanggung jawab sesuai UU No. 40 thn 1999
3.Pada umumnya negara barat menganut sistem liberalisme dimana pers
Tidak lagi dikontrol langsung oleh penguasa melainkan pembacanya ,
Sedangkan Negara berkembang masih banyak menganut sistem komunis
dimana pers masih sangat bnyak di pengaruhi oleh penguasa serta di
kontrol oleh penguasa-penguasa itu sendiri.
4.1) Pemberitaan bebas mengulas suatu masalah Ilmu pengetahuan dan tehnologi
serta pengetahuan dan informasi lainnya kepada masyarakat umum
2) Munculnya berbagai bentuk media masa seperti internet
dan lain-lain.
3) Terbitnya berbagai mass media baik cetak
audio maupun audio visual,
4) Tiap-tiap individu secara bebas dapat menyampaikan
pendapatnya melalui media masa .
5) Memberikan kesempatan tiap individu untuk mencoba berani bagi yang ingin mencoba bisnis dalam mass media terbukti munculnya produksi media baru Terbit,
Adil dan lain-lain serta membuka lapangan pekerjaan.
5. PERS LIBERAL
Teori pers liberal merupakan perkembangan dan reaksi terhadap teori pers sebelumnya,
Dalam teori ini, pers merupakan sarana penyalur suara nurani rakyat.
Pers bukanlah alat kekuasaan pemerintah. Pers harus bebas dari kendali pemerintah dan kebebasan berekspresi mesti dilindungi.
Dengan demikian, sensor dipandang sebagai tindakan inkonstitusional terhadap kemerdekaan pers.
Krisna Harahap menjelaskan bahwa menurut konsep libertarian, pers mempunyai tugas sebagai berikut.
1) Melayani kebutuhan kehidupan ekonomi (iklan).
2) Melayani kebutuhan kehidupan politik.
3) Mencari keuntungan (demi kelangsungan hidupnya).
4) Menjaga hak warga Negara.
5) Memberi hiburan.
Berikut ciri-ciri pers yang merdeka (libertarian).
1) Publikasi bebas dari setiap penyensoran pihak ketiga.
2) Penerbitan dan pendistribusian terbuka bagi setiap orang tanpa memerlukan izin atau lisensi.
3) Kecaman terhadap pemerintah, pejabat, atau partai politik tidak dapat dipidana.
4) Tidak ada kewajiban memublikasikan segala hal,
5) Publikasi kesalahan dilindungi sama halnya dengan publikasi kebenaran dalam hal-hal yang berkaitan dengan opini dan keyakinan.
6) Tidak ada batasan hukum terhadap upaya pengumpulan informasi untuk kepentingan publikasi.
7) Wartawan mempunyai otonomi professional dalam organisasi mereka.
PERS KOMUNIS
Teori pers ini berfungsi sebagai alat untuk melakukan indoktrinasi massa.
\ pers harus menjadi suatu collective propagandist, collective agitation, dan collective organizer
(organ yang menyuarakan propaganda, hasutan dan mengorganisasikan kelompok).
Ciri-ciri dari teori ini.
1) Media berada di bawah pengendalian kelas pekerja, karenanya melayani kepentingan kelas tersebut.
2) Media tidak dimiliki secara pribadi.
3) Masyarakat berhak melakukan sensor dan tindakan hokum lainnya untuk mencegah atau menghukum setelah terjadinya peristiwa, publikasi yang bersifat antimasyarakat.
4) Pers merupakan alat Negara atau partai komunis yang berkuasa.
5) Pers harus tunduk kepada pemerintah dan mendapat kontrol dari pemerintah/partai komunis yang berkuasa.
6) Pers diizinkan memuat kritikan pada media massa selama tidak mengkritik ideologi komunisme.
7) Pers berfungsi sebagai alat indoktrinasi massal dalam propaganda.
8) Pers merupakan satu-satunya alat yang dapat membantu pemerintah berinteraksi dengan kelas pekerja (buruh).
Langganan:
Postingan (Atom)
